Sahabat Hidup
Pagi menyambut kediaman Salsa
Pawestri. Gadis remaja tanggung yang terkenal periang itu pagi ini begitu
bersemangat berangkat ke sekolah. Menggunakan seragam kebesaran dan
menyampirkan tas miliknya gadis itu tampil necis menuju ke sekolah barunya.
Salsa turun dari kamar dan disambut oleh neneknya yang begitu anggun. Wajah
neneknya yang tetap cantik meskipun masuk kepala tujuh sepertinya menurun
kepada cucu kesayanganya itu. Wanita tua itu tersenyum menatap binar mata cucu
kesayanganya itu. Setelah mengamit tangan nenek Salsa berangkat dengan mengendarai
motor menuju sekolah barunya. Salsa memang baru saja tinggal di kota kecil ini.
Magelang diharap dapat menjadi tempat yang damai untuknya.
Gerbang SMA Cakrawala sudah hampir
di tutup. Salsa segera memarkir motornya dan menuju ke kelasnya. XI IPS 4
menjadi destinasinya meskipun sebelum itu dia harus menuju ke ruang kepala
sekolah dulu. Dengan senyum andalanya dia menyapa riang wajah-wajah baru di
hadapanya. Banyak mata memandangnya, banyak mata mengintimidasinya, banyak mata
tertegun, dan lain sebagainya.
“Sudah siap nak?” tanya Pak Ari yang
bertugas mengantar sekaligus memperkenalkannya di depan teman-teman. Salsa
mengangguk semangat. Memasuki ruangan senyumnya merekah. Sedikit malu mungkin
namun itu bukan masalah bagi gadis semenyenangkan Salsa. Pak Ari yang masuk
membuat kelas hening sesaat. Ada bisik-bisik kecil di sana. Sudah biasa
batinya.
“Pak Ari saya mau bicara sebentar.”
Seorang lelaki mengacungkan jarinya. Nampak dari tatananya jauh dari kata rapi
mungkin.
“Ya silakan Galang. Kamu mau bicara
apa?”
“Sstt semua diam sebentar.” Yang di
panggil galang itu berdiri dengan angkuhnya. Murid lain menahan menahan tawa,
“Hai nona cantik. Dengarkanlah musik pengantar dari aku sang pangeran tampan.”
Lelaki itu berbalik badan, dan …
Duutt dutt
prett teprett prettt..
Suasana kelas berubah ramai, semua
tertawa dan bahkan ada yang sampai hampir menangis. Salsa diam mencerna. Oke
dia di permalukan pagi ini bahkan sebelum dia memperkenalkan diri. Tanganya
menutup mulut menunduk. Pak guru yang merasa tidak nyaman menyentuh pundak
Salsa.
“DIAM SEMUA!!!” Pak Ari meninggikan
suaranya. Kelas yang ramai berangsur tenang bahkan diam. “ Kamu gak papa to nduk?” Kata Pak Ari dengan logat
jawanya yang tampak khawatir. Sayangnya kekhawatiran Pak Ari salah besar.
Gadis itu tertawa ngakak. Suaranya
khas. Suara itu yang kadang membuat teman-teman dan gurunya senewen. “Ah, dulu
ibumu ngidam burung kutilang ya,“ tanya gurunya.
“Wow, enak saja Bapak bilang, nggak
Pak. Yang bener burung kuntul.” Timpal Salsa sambil meringkikan tertawa
khasnya. Mungkin bukan hanya teman dan gurunya dahulu yang akan senewen tapi
kawan dan gurunya sekarang juga akan sama. Kelas kembali ramai dan sepertinya
pagi itu dengan mudah Salsa mendapatkan hati teman-teman barunya.
Seminggu berlalu. Kehidupanya di
Magelang terlihat begitu lancar. Dengan teman-teman baru, sahabat-sahabat baru,
bahkan Salsa sudah bisa menghafalkan teman-temanya satu IPS. Hanya saja, ada
yang begitu mengganjal karena ada satu orang yang tidak pernah bertegur sapa
dengannya bahkan selalu menatapnya dengan tatapan tak biasa. Reina namanya dan
dia adalah gadis ansos yang memang selalu menjauh dari keramaian. Sejauh ini
baru itu info yang dia ketahui tentang gadis itu.
“Sal, kantin sekarang mau kagak?
Bosen deh jamkos.” Galang yang menjadi kenalan sekaligus teman duduk pertamanya
membuyarkan lamunan Salsa.
“Gue eh aku sih ayo ayo aja. Cuma
pingin deh ajak si Reina itu.” Jawab Salsa sambil menaikan satu alisnya.
“ Yah sono kalau bisa.” Ejek Galang
menatap Salsa meremehkan. “Gak usah lama buru laper Sal.” Salsa mengangguk
mengiyakan. Menurut pengakuan teman-temanya Galang tidak mudah bergaul dengan
wanita sejak dulu. Tidak ada wanita yang benar-benar bisa membuat Galang betah
katanya. Oke itu dulu. Sebelum Salsa datang dan menjadi pelengkap kelas
tergaduh satu ini.
“Kantin yuk Reina.” Salsa memulai
percakapan dengan sedikit canggung. Bukan membalas perkataanya Reina malah
melengos dan pergi begitu saja dengan mata berkaca-kaca. Loh? Kok gitu sih batin Salsa. Gadis itu tak habis akal.
Ia akan mencobanya nanti.
Sepulang sekolah Salsa mendekati
Reina yang nampak tekun dengan buku catatanya. Salsa menjajarkan tubuhnya
dengan gadis jutek di hadapanya. Berharap gadis itu dapat menyadari kehadiran
Salsa yang berusaha menarik perhatian. Sayang usahanya kembali di abaikan.
Salsa yang kesal menarik tangan Reina menjauh dari buku catatanya.
Reina yang kesal mengibas tanganya
dari Salsa, “Emang deh orang Jakarta gak tau aturan! Gak pernah ya di ajarin
sopan santun sama mak bapak lo !” Reina meninggikan suaranya. Nampak
benar-benar marah sampai dengan berani membawa nama orang tua gadis di
hadapanya.
“Kamu kenapa sih? Dari awal ada
masalah sama aku sampai segininya? Apa aku ngelakuin kesalahan sama kamu? Aku
cuma pingin berteman kok.”
“Aku gak sudi deh temenan sama
kamu!” Reina mendorong tubuh Salsa kasar.
“Aku salah apa sih Rein? Kenapa
segitu bermasalahnya kamu sama aku?” Airmata mulai mengalir di pipi Salsa.
“Kamu tu sempurna! Kamu bisa
bertemen sesuka kamu. Bisa main kesana kemari. Bisa terbuka. Bisa main sama
Galang! Kamu bisa ketawa sama temen-temen. Gak kaya aku! Temen gak punya. Mama
sama papa cuma mau aku belajar karena gimana caranya aku harus jadi dokter. Sedangkan kamu? Kamu bisa bebas
bertemen. Gak di pandang sebelah mata sama temen-temen. Hidup kamu bahagia!
Bahkan kamu bisa deket sama Galang. Cowok terpopuler di kalangan cewek-cewek
yang susah banget bergaul sama cewe. Sedangkan aku? Aku gak pernah punya sahabat
apalagi dapetin hatinya Galang. Tuhan tu gak adil!!!” Reina setengah bertriak
sambil menggoyang-goyangkan tubuh Salsa yang diam membeku. Gadis itu menangis
pilu. Meringkuk memeluk lututnya.
Salsa menyunggingkan senyum kecil.
Senyum itu bukan senyum kemenangan. Senyum itu senyum terpahit yang pernah dia
perlihatkan pada orang lain. Salsa merengkuh tubuh mungil Reina. Dia berbisik,
“Setidaknya kamu bukan gadis pengidap leukemia akut yang sekaligus seorang
anak brokenhome. Setidaknya kamu punya
orang tua di samping kamu sekarang.” Salsa mengendurkan pelukanya. Reina yang
meringkuk terbangun dan menatap mata teduh Salsa. Di balik riangnya Salsa
hanyalah gadis lemah yang rindu akan kasih sayang orang tuanya.
“Sal? Kamu gak papa?” Reina
menyadari wajah Salsa yang memucat. Ada darah segar yang mengalir dari hidung
bangir gadis di hadapanya. Tubuhnya melemah dan berangsur jatuh begitu saja.
Reina yang panik meminta pertolongan dengan berteriak sekencang-kencangnya
sambil menyangga kepala Salsa.
“Kamu sahabatku mulai detik ini dan
satu lagi. Galang itu Cuma butuh cewe yang gak jaim kaya cewek kebanyakan. Jadi
jangan mikir buruk terus ya.” Bisik Salsa sebelum terlelap dan siapa yang sangka itu adalah hari terakhirnya
menatap dunia.
Reina tahu semuanya sekarang. Salsa
tidak seberuntung pemikiranya dan dirinya pun tidak seburuk pemikiranya. Tidak
ada yang menyangka bahwa gadis seriang Salsa adalah gadis yang lari dari
kehidupan brokenhomenya dari Jakarta menuju Magelang dengan harapan dapat
mendapat akhir hidup yang tenang dan bahagia. Umurnya yang di diagnosa sangat
sebentar itu ia pergunakan untuk membahagiakan dunianya. Hal ini membuat Reina
paham. Reina hanya perlu membuka diri. Percaya pada dirinya dan membuka mata
selebar-lebarnya. Reina tahu Salsa akan bangga melihat sahabatnya keluar dari
sifat ansosnya dan datang sebagai Reina yang baru dengan tawa tanpa ambisi. Salsa
telah berhasil melakukan tugasnya sebagai sahabat bahkan dalam waktu yang
sangat singkat. Dia adalah sahabat yang mengajarkan betapa indahnya hidup jika
di tatap dengan cara yang indah.
OK, dari segi penulisan sudah baik. Penggunaan kata sapaan perlu diperhatikan. Contoh -->
BalasHapus“DIAM SEMUA!!!” Pak Ari meninggikan suaranya. Kelas yang ramai berangsur tenang bahkan diam. “Kamu gak papa to Nduk?” Kata Pak Ari dengan logat jawanya yang tampak khawatir. Sayangnya kekhawatiran Pak Ari salah besar.
Gadis itu tertawa ngakak. Suaranya khas. Suara itu yang kadang membuat teman-teman dan gurunya senewen. “Ah, dulu ibumu ngidam burung kutilang ya,“ tanya gurunya.