Rabu, 04 Januari 2017

pilihan 1




Sahabat Hidup

            Pagi menyambut kediaman Salsa Pawestri. Gadis remaja tanggung yang terkenal periang itu pagi ini begitu bersemangat berangkat ke sekolah. Menggunakan seragam kebesaran dan menyampirkan tas miliknya gadis itu tampil necis menuju ke sekolah barunya. Salsa turun dari kamar dan disambut oleh neneknya yang begitu anggun. Wajah neneknya yang tetap cantik meskipun masuk kepala tujuh sepertinya menurun kepada cucu kesayanganya itu. Wanita tua itu tersenyum menatap binar mata cucu kesayanganya itu. Setelah mengamit tangan nenek Salsa berangkat dengan mengendarai motor menuju sekolah barunya. Salsa memang baru saja tinggal di kota kecil ini. Magelang diharap dapat menjadi tempat yang damai untuknya.
            Gerbang SMA Cakrawala sudah hampir di tutup. Salsa segera memarkir motornya dan menuju ke kelasnya. XI IPS 4 menjadi destinasinya meskipun sebelum itu dia harus menuju ke ruang kepala sekolah dulu. Dengan senyum andalanya dia menyapa riang wajah-wajah baru di hadapanya. Banyak mata memandangnya, banyak mata mengintimidasinya, banyak mata tertegun, dan lain sebagainya.
            “Sudah siap nak?” tanya Pak Ari yang bertugas mengantar sekaligus memperkenalkannya di depan teman-teman. Salsa mengangguk semangat. Memasuki ruangan senyumnya merekah. Sedikit malu mungkin namun itu bukan masalah bagi gadis semenyenangkan Salsa. Pak Ari yang masuk membuat kelas hening sesaat. Ada bisik-bisik kecil di sana. Sudah biasa batinya.
            “Pak Ari saya mau bicara sebentar.” Seorang lelaki mengacungkan jarinya. Nampak dari tatananya jauh dari kata rapi mungkin.
            “Ya silakan Galang. Kamu mau bicara apa?”
            “Sstt semua diam sebentar.” Yang di panggil galang itu berdiri dengan angkuhnya. Murid lain menahan menahan tawa, “Hai nona cantik. Dengarkanlah musik pengantar dari aku sang pangeran tampan.” Lelaki itu berbalik badan, dan …
Duutt dutt prett teprett prettt..
            Suasana kelas berubah ramai, semua tertawa dan bahkan ada yang sampai hampir menangis. Salsa diam mencerna. Oke dia di permalukan pagi ini bahkan sebelum dia memperkenalkan diri. Tanganya menutup mulut menunduk. Pak guru yang merasa tidak nyaman menyentuh pundak Salsa.
            “DIAM SEMUA!!!” Pak Ari meninggikan suaranya. Kelas yang ramai berangsur tenang bahkan diam. “ Kamu gak papa to nduk?” Kata Pak Ari dengan logat jawanya yang tampak khawatir. Sayangnya kekhawatiran Pak Ari salah besar.
            Gadis itu tertawa ngakak. Suaranya khas. Suara itu yang kadang membuat teman-teman dan gurunya senewen. “Ah, dulu ibumu ngidam burung kutilang ya,“ tanya gurunya.
            “Wow, enak saja Bapak bilang, nggak Pak. Yang bener burung kuntul.” Timpal Salsa sambil meringkikan tertawa khasnya. Mungkin bukan hanya teman dan gurunya dahulu yang akan senewen tapi kawan dan gurunya sekarang juga akan sama. Kelas kembali ramai dan sepertinya pagi itu dengan mudah Salsa mendapatkan hati teman-teman barunya.
            Seminggu berlalu. Kehidupanya di Magelang terlihat begitu lancar. Dengan teman-teman baru, sahabat-sahabat baru, bahkan Salsa sudah bisa menghafalkan teman-temanya satu IPS. Hanya saja, ada yang begitu mengganjal karena ada satu orang yang tidak pernah bertegur sapa dengannya bahkan selalu menatapnya dengan tatapan tak biasa. Reina namanya dan dia adalah gadis ansos yang memang selalu menjauh dari keramaian. Sejauh ini baru itu info yang dia ketahui tentang gadis itu.
            “Sal, kantin sekarang mau kagak? Bosen deh jamkos.” Galang yang menjadi kenalan sekaligus teman duduk pertamanya membuyarkan lamunan Salsa.
            “Gue eh aku sih ayo ayo aja. Cuma pingin deh ajak si Reina itu.” Jawab Salsa sambil menaikan satu alisnya.
            “ Yah sono kalau bisa.” Ejek Galang menatap Salsa meremehkan. “Gak usah lama buru laper Sal.” Salsa mengangguk mengiyakan. Menurut pengakuan teman-temanya Galang tidak mudah bergaul dengan wanita sejak dulu. Tidak ada wanita yang benar-benar bisa membuat Galang betah katanya. Oke itu dulu. Sebelum Salsa datang dan menjadi pelengkap kelas tergaduh satu ini.
            “Kantin yuk Reina.” Salsa memulai percakapan dengan sedikit canggung. Bukan membalas perkataanya Reina malah melengos dan pergi begitu saja dengan mata berkaca-kaca. Loh? Kok gitu sih batin Salsa. Gadis itu tak habis akal. Ia akan mencobanya nanti.
            Sepulang sekolah Salsa mendekati Reina yang nampak tekun dengan buku catatanya. Salsa menjajarkan tubuhnya dengan gadis jutek di hadapanya. Berharap gadis itu dapat menyadari kehadiran Salsa yang berusaha menarik perhatian. Sayang usahanya kembali di abaikan. Salsa yang kesal menarik tangan Reina menjauh dari buku catatanya.
            Reina yang kesal mengibas tanganya dari Salsa, “Emang deh orang Jakarta gak tau aturan! Gak pernah ya di ajarin sopan santun sama mak bapak lo !” Reina meninggikan suaranya. Nampak benar-benar marah sampai dengan berani membawa nama orang tua gadis di hadapanya.
            “Kamu kenapa sih? Dari awal ada masalah sama aku sampai segininya? Apa aku ngelakuin kesalahan sama kamu? Aku cuma pingin berteman kok.”
            “Aku gak sudi deh temenan sama kamu!” Reina mendorong tubuh Salsa kasar.
            “Aku salah apa sih Rein? Kenapa segitu bermasalahnya kamu sama aku?” Airmata mulai mengalir di pipi Salsa.
            “Kamu tu sempurna! Kamu bisa bertemen sesuka kamu. Bisa main kesana kemari. Bisa terbuka. Bisa main sama Galang! Kamu bisa ketawa sama temen-temen. Gak kaya aku! Temen gak punya. Mama sama papa cuma mau aku belajar karena gimana caranya aku harus jadi  dokter. Sedangkan kamu? Kamu bisa bebas bertemen. Gak di pandang sebelah mata sama temen-temen. Hidup kamu bahagia! Bahkan kamu bisa deket sama Galang. Cowok terpopuler di kalangan cewek-cewek yang susah banget bergaul sama cewe. Sedangkan aku? Aku gak pernah punya sahabat apalagi dapetin hatinya Galang. Tuhan tu gak adil!!!” Reina setengah bertriak sambil menggoyang-goyangkan tubuh Salsa yang diam membeku. Gadis itu menangis pilu. Meringkuk memeluk lututnya.
            Salsa menyunggingkan senyum kecil. Senyum itu bukan senyum kemenangan. Senyum itu senyum terpahit yang pernah dia perlihatkan pada orang lain. Salsa merengkuh tubuh mungil Reina. Dia berbisik, “Setidaknya kamu bukan gadis pengidap leukemia akut yang sekaligus seorang anak  brokenhome. Setidaknya kamu punya orang tua di samping kamu sekarang.” Salsa mengendurkan pelukanya. Reina yang meringkuk terbangun dan menatap mata teduh Salsa. Di balik riangnya Salsa hanyalah gadis lemah yang rindu akan kasih sayang orang tuanya.
            “Sal? Kamu gak papa?” Reina menyadari wajah Salsa yang memucat. Ada darah segar yang mengalir dari hidung bangir gadis di hadapanya. Tubuhnya melemah dan berangsur jatuh begitu saja. Reina yang panik meminta pertolongan dengan berteriak sekencang-kencangnya sambil menyangga kepala Salsa.
            “Kamu sahabatku mulai detik ini dan satu lagi. Galang itu Cuma butuh cewe yang gak jaim kaya cewek kebanyakan. Jadi jangan mikir buruk terus ya.” Bisik Salsa sebelum terlelap dan siapa  yang sangka itu adalah hari terakhirnya menatap dunia.
            Reina tahu semuanya sekarang. Salsa tidak seberuntung pemikiranya dan dirinya pun tidak seburuk pemikiranya. Tidak ada yang menyangka bahwa gadis seriang Salsa adalah gadis yang lari dari kehidupan brokenhomenya dari Jakarta menuju Magelang dengan harapan dapat mendapat akhir hidup yang tenang dan bahagia. Umurnya yang di diagnosa sangat sebentar itu ia pergunakan untuk membahagiakan dunianya. Hal ini membuat Reina paham. Reina hanya perlu membuka diri. Percaya pada dirinya dan membuka mata selebar-lebarnya. Reina tahu Salsa akan bangga melihat sahabatnya keluar dari sifat ansosnya dan datang sebagai Reina yang baru dengan tawa tanpa ambisi. Salsa telah berhasil melakukan tugasnya sebagai sahabat bahkan dalam waktu yang sangat singkat. Dia adalah sahabat yang mengajarkan betapa indahnya hidup jika di tatap dengan cara yang indah.